Itachi Jarod 04

Go,…

“WEK-WEK”

Posted by JackQ on February 24, 2008

( Dagelan Cangkokan dari Eropa Barat abad XIV, dengan beberapa perubahan )

Olahan : Drs. D. Djaja Kusuma

Pelaku : Pak Epe sebagai Pak Lurah

: Peter sebagai Pukrul Bambu

: Nonong sebagai Tukang Angon Bebek

: Ko’ Liong sebagai Cukong Telor

ADEGAN I

NONONG :Sejauh mata memandang, sawah luas terbentang

Tapi tidak sebidangpun adalah milikku.

Padi aku yang tanam, juga aku yang ketam

Tapi tidak segenggam pun adalah milikku.

Bebek tiga puluh ekor, semuanya tukang bertelor

Tapi tidak sebutir pun adalah milikku.

Badan hanya sebatang, hampir-hampir telanjang

Hanya ini saja yang menjadi milikku.

ADEGAN II

KO’ LIONG :Oe orang berada, apa-apa ada

Juga buah dada, itulah beta.

Sawah berhektar-hektar, pohon berakar-akar

Rumah berkamar-kamar,itulah nyatanya.

Kambing berekor-ekor, bebek bertelor-telor

Celana berkolor-kolor, film berteknik colour.

Perut buncit ada, mata melotot ada

Pelayan ada, pokoknya serba ada.

ADEGAN III

PETER :Badan nya kering, mata nya juling,

Otak nya bening, that’s me.

Tipu menipu, adu mengadu,

Ijasah palsu, that;s me.

Gugat menggugat, sikat menyikat,

Lidah bersilat, that’s me.

Profesi ku pukrul bambu,

Siapa tidak tahu?, that’s you.

ADEGAN IV

PAK EPE :Saya jadi lurah sejak awal sejarah.

Sudah lama kepengin berhenti,

Tapi tidak ada yang mau mengganti.

Sudah bosan, jemu, capek, lelah

Otot kendur, mata kabur

Mau mundur dengan teratur

Mau ngaso diatas kasur

Saya gembung bukan karena busung

Mata berair bukan karena banjir

Tapi, karena menjadi tong sampah.

Srobotlah tanah, pak Lurah

Curi air sawah, pak Lurah

Beras susah, pak Lurah

Semua masalah, pak Lurah

Tapi kalau rejeki melimpah

Pak Lurah…… Tidak usah

Payaaaaaaaaah.

ADEGAN V

KO’ LIONG :Jaman ini memang jaman edan

Tidak ikut mengedan, tidak kebagian

Diterminal calo berkuasa

Dia tentukan penumpang naik apa.

Di dunia film, broker merajalela

Dia tentukan sutradara bikin apa

Disini itu si Nonong sialan

Datang merangkak minta pekerjaan

Oe suruh angon bebek tiga puluh ekor

Tiap minggu setor lima puluh telor.

Dia tentukan berapa harus setor

Sungguh-sungguh kurang ekor

Waktu ditanya, dia jawab: “dimakan burung kondor”

Disini tidak ada burung kondor, dia yang kondor

Dia datang melolong minta tolong

Sudah ditolong…..eeee…..dia menyolong.

Orang seperti itu harus dipukuli!

Sayang nya Oe tidak berani

Laginya Oe tidak mau mengotori tangan Oe

Dengan menyentuh tubuhnya yang bau

Oe tidak mau menjadi hakim sendiri

Apa gunanya pak Lurah digajih?

ADEGAN VI

NONONG :Orang sudah melarat ditimpa cialat.

Telor dimakan masih juga digugat

Padahal yang menelor itu tidak perduli

Apakah mau dimakan,apa dicuri

Pokoknya kan aku tiap minggu setor

Sekitar….sekitar, lima puluh telor.

Waktu menyebrang jalan, datang motor

Bebek kabur, satu ketubruk mati konyol

Sekarang aku harus menghadap pak Lurah

Untuk mempertanggung jawabkan

Apa yang sudah aku lakukan.

Menurut versi Liong dangkalan

Siapa yang akan menolongku?

PETER :Apa masalahmu, menangis tersedu-sedu

Apa persoalan, merengek tersedan-sedan

Jangan takut, aku bukan polisi

Bukan maut, juga bukan polusi.

NONONG :Begitu mulutnya dibuka

Mendadak hilang duka

Permisi, saya mau bertanya

Kok bapak ini mau menyapa saya?

PETER :Aku sedih melihat orang susah

Aku murka melihat orang marah

Aku membantu orang lagi kejepit

Kena urusan berbelit-belit.

NONONG :Ikan dicita, ulam pun tiba

Janda dicinta, sebab kaya raya

Bapak mau menolong membantu saya

Yang lagi bingung kena perkara?

PETER :Aku diturunkan kebumi ini

Dengan membawa sebuah misi

Membantu orang yang lagi kena perkara

Baik yang perdata maupun yang pidana

Baik yang perdana maupun yang perjasa

Nah,…pilih yang mana, buat saya sama-sama PER.

NONONG :Anu, pak. Ini itu urusan telor sama bebek.

PETER :Ah. Telor dan bebek. Bukan telor dan ayam?

Disini telor, disana telor. Sama. Akor

NONONG :Ya. Tapi saya melarat, pak

PETER :Ya. Saya juga melarat.

Karena nya, harus kerja sama yang erat

Segala sesuatu dikerjakan dengan mufakat

Misalnya saja tentang honorku

Biar bagaimanapun, aku ini pukrul bambu

Kamu harus hargai profesiku.

NONONG :Bapak harus sadari profesi saya

Yang tidak menghasilkan apa-apa

Harta karun tidak ada

Yang ada cemeti dan celana

Nah,… Ambil saja cemeti ini, biar nanti saya cari lagi

Jangan ambil celana pak. Nanti saya celaka

Menambah lagi perkara. Perkara pusaka dewata!

PETER :Ini bukan perkara cemeti dan celana

Tapi urusan telor dan bebek

Jelas, urusan telor dan bebek

Telor dan bebek

Tor-tor dan wek-wek

NONONG :Tor-tor dan wek-wek itu maksudnya apa ya, pak??

PETER :Sssttt! Jangan keras-keras (Saling berbisik dan kemudian tertawa terbahak-bahak)

ADEGAN VII

Pak Epe dan Ko’ Liong, kemudian Nonong dan Peter

PAK EPE :Sudah dipikir masak-masak?

KO’ LIONG :Sudah, malah hampir busuk.

PAK EPE :Kalau dipikir-pikir, berapalah rugimu.

KO’ LIONG :Ini memang bagi Oe bukan soal untung rugi. Ini soal kepercayaan Oe yang dilukai. Muka Oe yang diludahi. Sudah ditolong masih mencuri. Oe kurang baik apa? Masih saja orang bilang Oe pedit, pelit, bakhil, kedekut.

PAK EPE :Penghisap, pemeras, penggencet, penyedot, pengepres.

KO’ LIONG :Ya, semua yang tidak beres.

PAK EPE :Kalau dia mengaku, apa tindakanmu?

KO’ LIONG :Dia harus bayar kerugian Oe.

PAK EPE :Kalau dia tidak dapat?

KO’ LIONG :Apa boleh buat, pecat!!

PAK EPE :Lantas apa nasibnya?

KO’ LIONG :Itu urusannya, urusan pak Epe.

PAK EPE :Kalau dia tidak mengaku bersalah?

KO’ LIONG :Ya,…Pak Epe atur supaya dia menyerah, nanti Oe akan atur supaya padi pak Epe bertambah.

PAK EPE :Saya jadi Lurah sejak awal sejarah, jangan omongan mu membikin aku marah.

KO’ LIONG :Maaf, pak. Maksud Oe sama sekali tidak mempengaruhi. Hanya saja si Entong anak bapak kemarin bilang kepengin Kawasaki.

PAK EPE :Kalau dia kepengin, tentu akan bilang sama saya.

KO’ LIONG :Dia kemarin pesan kalau tidak Kawasaki, ya….Honda saja.

PAK EPE :Mau diam tidak? Mau aku suruh depak?

KO’ LIONG :Maksud Oe….

Datang Nonong dan Peter

PETER :Ah, pak Epe. Selamat pagi, selamat bertemu lagi. Apa kabar Ko’ Liong masih suka membagong?

KO’ LIONG :Pukrul busuk. Awas! Jangan sembarangan ngomong.

PAK EPE :Perkara apa yang kan kita hadapi, hina menghina atau curi mencuri?

KO’ LIONG :Maaf pak Epe. Dia yang mulai.

PAK EPE :Baik. Peter, apa kau jadi pembela?

PETER :Betul. Pembela dan kuasa penuh .

KO’ LIONG :Maksudnya, kalau kalah perkara saudara masuk penjara?

PETER :Saya kira yang akan kalah saudara.

PAK EPE :Baik, kita mulai. Orang mau bicara hanya dengan seizin saya.

KO’ LIONG :Setuju.

PETER :Yah,… Kalau pak Epe maunya begitu.

NONONG :Bb..bb…..

PAK EPE :Bagaimana kau Nonong?

KO’ LIONG :Tergugat, terdakwa, tertuduh, tersangka.

PAK EPE :Kalau mau bicara dengan seizin saya.

KO’ LIONG :Maaf pak Epe. Bagaimana Nonong? (Nonong diam saja)

PAK EPE :Jawab Nonong!

PETER :Maaf pak Epe, boleh saya bicara?

PAK EPE :Silahkan.

PETER :Sebelumnya saya mohon maaf bagi klien dan pasien saya. Klien karena dia minta kepada saya menjadi pembelanya dan kuasa usahanya. Pasien karena dia minta saya menjadi dokternya. Keterangan dan penjelasannya : sewaktu dia datang pada saya, yaitu hari kamis Legi yang lalu, tanggal 32 september 1999 pada jam sepuluh, 30 menit, 6 sekon, 7 dukon, 8 trikon, getaran 9 jarum ritcher, udara 24o celcius, curah hujan 29 centi, wuku sia-sia, naga diselatan, singa di utara, bintang Venus berada di……

KO’ LIONG :Pak Epe, Oe protes.

PAK EPE :Kenapa?

KO’ LIONG :Urusan apa itu si Venus? Sebentar lagi si Wati, si Inah, dan si,…

PAK EPE :Protes diterima. Pembela,…. Fakta yang langsung berhubungan dengan dengan fenomena dan sebaliknya yang berkaitan dengan perkara.

PETER :Walau hak saya dikurangi…. Tidak apalah. Saudara Nonong ini datang pada saya, dikantor saya dikaki enam di depan pasar sebelah kiri toko sepeda, sebelah kanan warung tegal, bersebrangan dengan pompa minyak goreng, menceritakan kepada saya musibah yang mengenai dirinya yang disebabkan oleh telor, bebek, dan Ko’ Liong, dengan suara yang gemetar kedinginan. Pak Epe, ia datang berlari-lari langsung dari sawah dan kehujanan lebat sekali, mengamankan bebek-bebek dan telor-telor yang menjadi tanggungan nya. Mendadak banjir datang dari kali, mendadak petir menyambar dari langit. Dua ekor bebek di bawa banjir……

KO’ LIONG :Astaga, telornya?

PETER :Sepuluh butir telor disambar petir, hancur berantakan.

KO’ LIONG :Telor ku, telor ku, bebek ku.

PAK EPE : Nonong benarkah ini semua terjadi?

NONONG :Ya…wek…wek…weeeek……(Pingsan)

PETER :Wek-wek. Maaf, pak Epe. Selesai dia menceritakan pengalaman nya yang mengerikan itu, ia jatuh pingsan. Badannya menggigil, keringatnya mengalir, mukanya pucat, ia mengeluh : wek…wek…wek… Waktu ia sadar kembali, terlanjur suara yang ia bisa hanya wek, selain wek tidak ada, wek-wek seperti yang pak Lurah dengar tadi. Ia sedih sekali, saya ikut sedih dan berjanji padanya akan menyembuhkannya. Jadi kalau dia menjawab dengan wek-wek, maafkan dia.

KO’ LIONG :Pak Epe, ini Oe kira suatu permainan yang licik, akal-akalan dari pukrul bambu, pukrul tipu, pukrul….

PETER :Pak Epe. Dengan ini saya saya adukan cukong Liong pada pak Epe karena telah menghina saya di depan muka umum. Pak Epe dengar sendiri dari moncong Liong…

KO’ LIONG :Pak Epe, Oe adukan pukrul itu menghina Oe, menyebut mulut Oe dengan moncong…

PAK EPE :Saya catat. Sudah saya catat. Peter menghina Ko’ Liong, Ko’ Liong menghina Peter. Skor satu lawan satu. Draw. Remise. Sama kuat. Selesai. Saya peringatkan, jangan ada yang nyeleweng lagi. Kita lagi membicarakan perkara Nonong dengan bebeknya, dan telornya Ko’ Liong.

PETER :Saya tidak ada urusan dengan telornya Ko’ Liong.

KO’ LIONG :Telor Oe jangan dibawa-bawa.

PETER :Memangnya ditinggal dirumah?

PAK EPE :Lama-lama bisa hilang kesabaran saya. Tekanan darah saya bisa naik. Kita lagi membicarakan soal wek-wek.

KO’ LIONG :Pak Epe, ini bukan perkara wek-wek.

PETER :Tapi ada kaitannya dengan wek-wek. Mengapa Nonong sekarang hanya bisa bilang wek-wek? Ya, kenapa? Karena ia ingat pada bebek yang dibawa air bah. Karena ia cinta pada bebek asuhannya, karena ia merasa sepenuhnya bertanggung jawab atas keselamatan bebek yang berbunyi wek-wek itu, karena saben hari saben malam mendengar hanya suara wek-wek, hingga suara wek-wek, syarafnya terganggu oleh wek-wek. Hingga suara wek-wek menjadi obsesi, otaknya penuh dengan suara wek-wek, pita suaranya tersetem pada nada wek-wek, dia hanya akan bisa berwek-wek sampai akhir hayatnya. Bahkan kuburnya nanti akan berbunyi wek,wek,wek (Menakuti). Dan arwahnya pun akan berbunyi wek-wek,wek-wek,wek-wek (Menakuti). Dan kita sekarang ini, membicarakan ini dengan bahasa wek-wek.

KO’ LIONG :Oe protes. Tidak bisa. Oe belum belajar bahasa wek-wek. Apaan mesti harus berwek-wek. Wek wek wek wek, apa wek wek wek? Wek wek wek….

PAK EPE :Itu terlalu ekstrim. Kalau kita harus menyelesaikan perkara ini dengan bahasa wek-wek, maka terpaksa perkara ini harus ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan, sampai kita semua terlahir berwek-wek. Dan itu akan memakan waktu yang lama sekali. Sebab guru bahasa wek-wek belum ada. Kamusnya pun beum ada, buku penuntunnya pun belum ada. Perlu diadakan terlebih dahulu penelitian dari seminar wek-wek.

NONONG :(Bangun dari pingsan) Wek…wek…

PAK EPE :Apa mau nya?

PETER :Dia bilang, kasihanilah saya. Saya tidak bersalah.

KO’ LIONG :Bohong. Dia telah mencuri tiga belas telor dan tiga bebek.

NONONG :(Keras) Wek wek wek wek……

PETER :Tidak salah.

KO’ LIONG :Salah.

NONONG :Wek-wek.

PETER :Tidak.

KO’ LIONG :Salah.

PAK EPE :Wek-wek.

PETER :Ya, wek-wek!

NONONG :Wek-wek.

PAK EPE :Wek-wek.

KO’ LIONG :Wek-wek.

PETER :Wek-wek.

PAK EPE :(Pukul) Diam! Wek-wek. Sudah jadi bebek semua.

NONONG :Wek wek wek wek wek…….. Wek wek wek wek.

PETER :Kalau dulu, dia tidak dipaksa harus hidup berhari-hari dengan bebek. Dia jadi begitu karena Ko’ Liong.

KO’ LIONG :Dia datang pada Oe minta pekerjaan. Yang lowong angon bebek. Dia terima pekerjaan itu. Oe tidak paksa.

PAK EPE :Apa keadaan yang harus dipersalahkan? Ko’ Liong, berapa ekor yang harus dia jaga, dan berapa telor yang harus dia setor?

KO’ LIONG :Bebek tiga puluh ekor.

PETER :Kelamin?

KO’ LIONG :Kelamin? Jangan menghina, ya! Jelas Oe ini laki-laki.

PETER :Aku tidak tanya kelamin mu. Kelamin bebek!

KO’ LIONG :Tiga puluh betina semua.

PAK EPE :Berapa telor harus dia setor?

KO’ LIONG :Lima puluh butir seminggu. Bebek menelor tiga kali sehari, satu minggu dia menelor dua kali. Tiga puluh bebek menelor dalam seminggu, enam puluh. Oe minta setoran cuma lima puluh, yang sepuluh buat upah si Nonong. Kan cukup bukan? Sepuluh kali 5 perak kan, 5 ratus perak seminggu.

PAK EPE :Lima ratus perak seminggu, sehari……..Tujuh puluh lima rupiah….Bisa hidupkah dia dengan uang tujuh puluh lima perak sehari?…….Beras,…. Bisakah dia penuhi setoran itu?

KO’ LIONG :Tidak pernah. Mula-mula cuma empat puluh, makin lama makin berkurang.

NONONG :Wek wek wek wek wek. Wek wek wek wek?

PAK EPE :Apa maksudnya?

PETER :Bebek tiga puluh betina semua. Tidak ada jantannya. Bagaimana bisa bertelor? Pak Epe, ini jelas suatu pemaksaan kemauan dan penghisapan diluar batas kemanusiaan dan kebinasaan.

KO’ LIONG :Nyatanya, mula-mula bebek-bebek itu bertelor.

PETER :Karena waktu kau beli dan diserahkan pada Nonong, bebek-bebek itu baru saja bergaul dengan bebek jantan. Kemudian,……..

KO’ LIONG :Nyatanya, kemudian masih bertelor.

PETER :Ini jasanya si Nonong.

PAK EPE :He! Kamu boleh menipu macam-macam. Tapi tipuan yang ini tidak berlaku. Masa’ Nonong berhubungan dengan bebek?

PETER :Kenapa tidak kau gauli sendiri bebek-bebek itu? Pak Epe, maksud saya tidak seperti yang pak Epe pikirkan. Karena diam-diam Nonong pinjam bebek jantan dari tukang angon lain, membiarkan si jantan itu menggauli bebek betina maka, masih ada telor yang bisa dipungut. Biar nafsu kebinatangannya bebek jantan itu luar biasa, toh ia tidak bisa menggauli betina segitu banyaknya.

PAK EPE :Kkalau begitu, si Nonong berjasa ganda. Berjasa terhadap bebek-bebek betina itu dan berjasa terhadap kamu Ko’ Liong!

NONONG :Wek wek wek wek, wek wek wek wek! (Marah)

PAK EPE :Apa katanya?

PETER :Dasar orang tidak tahu terima kasih, tidak tahu menghargai jasa orang.

PAK EPE :Bagaimana Ko’ Liong?

KO’ LIONG :Ya……Bebek yang dua ekor dimana?

PETER :Kapan terbawa banjir.

KO’ LIONG :Bukan yang itu, yang sebelumnya? Pasti dijual!

PETER :Menurut Nonong, yang satu disambar alap-alap. Yang lain dimakan anjing.

KO’ LIONG :Bohong. Percuma punya bebek. Hilang-hilang melulu. Memberi telor tidak. Percuma punya tukang angon.

NONONG :Wek wek wek wek.

KO’ LIONG :Apa lagi?

PETER :Tiap kali pinjam pejantan, dia harus bayar dua telor.

KO’ LIONG :Pemeras.

PETER :Siapa?

KO’ LIONG :Itu yang pinjamkan pejantan.

PETER :Kau bisa bilang orang pemeras. Lantas maunya kau pinjam gratis, gitu?

PAK EPE :Nah, perkaranya sudah jelas. Ko’ Liong, nampaknya kamu yang kalah. Memang betul Nonong kurang dapat menepati janjinya, tetapi itu karena keadaan yang kau ciptakan sendiri. Kamu tidak bisa memecat dia. Dan kalau kamu mau bebeknya bertelor, beli bebek jantan!

NONONG :Wek wek wek wek,…

PAK EPE :Apa katanya? (Kepada Peter)

NONONG :(Menyela) Terima kasih pak Lurah, saya sudah tidak jadi bebek lagi.

SEMUA :(Terkejut)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: